Adu Kuat Tim Abu Hasan, Ridwan Zakaria dan Aswadi Adam di Pilkada Butur 2020

Oleh : Rizkia Milida

(Penulis adalah Dewan Pendiri KOPI BUTUR)

Selain figur calon Bupati, siapa tim/pendukung di belakangnya merupakan faktor penting kemenangan dalam setiap momentum pilkada. Merekalah yang bertugas mengalihkan perhatian masyarakat, melakukan penekanan dalam rangka political bargaining, sampai pada strategi mencuri suara pendukung. Tulisan ini mencoba menyajikan analisis secara singkat, tim sukses siapa paling kuat diantara tim sukses lainnya, dengan menggunakan parameter politis historis dan diperkuat dengan alasan moral sebagai jaminan penerimaan mereka di tengah masyarakat.

ABU HASAN

Lima tahun yang lalu, Abu Hasan mendapat tempat dihati rakyat dengan pola politiknya yang sederhana. Tempat itu cukup terhormat sehingga bisa dijadikan alat untuk menggulingkan pemerintahan Ridwan Zakaria yang saat itu tengah berkuasa di Buton Utara. Dalam teori politik, incumbent seharusnya telah mendapatkan minimal 30% modal kemenangan. Sayangnya, kepercayaan itu tidak bisa dijaga dengan baik, sehingga baru di awal memimpin Butur, Abu Hasan sudah dihantam badai besar mosi tidak percaya DPRD dan renggangnya hubungan bersama Ramadio, wakil bupatinya yang punya andil menyumbang suara terbesar bagi kemenangan ABR dari wilayah seberang.

Hal ini disebabkan adanya isu kekuasaan yang hanya dijalankan satu tangan dan mengarah pada otoritarianisme, sebuah bentuk kekuasaan yang cenderung tidak terkontrol. Kekuasaan ini tidak bersedia berbagi peran sama sekali. Jatah jabatan tidak dibagi secara proporsional, kalaupun dibagi maka posisinya tidak strategis. Sehingga di zaman Abu Hasan, banyak teman menjadi musuh dan musuh dijadikan teman. Abu Hasan lantas dituding menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap krisis kepercayaan terhadap pemimpin yang tengah melanda Buton Utara saat ini. Program andalannya seperti padi organik dan kopra putih, terbukti tidak bisa mendongkrak perekonomian masyarakat. Ditambah lagi minimnya penciptaan lapangan kerja serta pembangunan yang banyak tersendat disegala bidang membuat petahana menjadi sasaran empuk untuk dijadikan kambing hitam dan objek hujatan. 

Untuk menangkal segala opini publik yang tidak kondusif ini, Abu Hasan jelas membutuhkan pendukung yang mumpuni. Mata publik kemudian tertuju pada sosok Ahmad Afif Darvin, tokoh muda yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD, sekaligus Ketua DPC PDIP Buton Utara. Sosok ini ditengarai akan memegang peran penting dan menjadi benteng Abu Hasan di Pilkada 2020 karena memiliki kemampuan mengkoordinir dan mengakomodir massa dengan baik.

Bagi penulis, banyaknya hujan kritikan yang mengarah ke gerbong Abu Hasan, harus disikapi dengan bijak. Tak harus dilawan dengan memantik emosi. Hujatan yang terus menerus di arahkan ke Abu Hasan justru bisa menjadi senjata yang ampuh jika dikelola dengan baik. Abu Hasan malah bisa jadi pahlawan. Ia akan jadi korban politik sehingga posisinya bisa berbalik menguntungkan. Ia akan menjadi underdog yang dikasihani masyarakat. Jika terus digebuki, orang akan makin simpati.. Perlu diingat, Abu Hasan masih punya banyak peluru. Dibelakangnya, masih ada puluhan Kadis, ratusan ASN dan ribuan perangkat Desa dan Kecamatan yang siap turun lapangan mempertahankan posisi yang sedang mereka jabat sekarang.

RIDWAN ZAKARIA

Tampilnya kembali Ridwan Zakaria di perhelatan akbar pilkada Butur tahun 2020, memunculkan banyak kekhawatiran lawan politik bahwa ia akan tampil kembali sebagai kekuatan politik yang dominan. Tanda-tanda obyektif itu memang sudah terlihat belakangan ini dengan bergabungnya tokoh iconik Butur : Abdul Salam Sahadia, serta bersatunya kembali trio PAN (Diwan Dini, Rukman Basri dan Josri) yang beberapa bulan lalu saling sikut memperebutkan kursi ketua DPRD, Ditambah kemampuan mumpuni aktivis partai sekaliber Muliadin Salenda, Mazlin, La Djiru, Jumsir dan Harwis Hari akan menjadi kerjasama dengan kekuatan politik yang sangat layak diperhitungkan. Masing-masing tokoh di atas punya basis massa yang jelas dan terukur.

Dengan beground tokoh-tokoh termasyur ini, tidak berlebihan jika ada lembaga survei yang menempatkan gerbong Ridwan Zakaria sebagai gerbong dengan elektabilitas tertinggi saat ini. Namun perlu diingat, gerbong raksasa ini  sekaligus bisa menjadi bumerang bagi Ridwan Zakaria. Banyaknya tokoh yang bergabung, sudah jelas akan menyebabkan banyaknya kepentingan yang masuk. Siapa yang akan memimpin siapa, dan siapa yang akan mengikut siapa sudah tentu akan menjadi hal sensitif untuk di bahas di gerbong ini. Ada baiknya gerbong ini tampil dengan hati-hati, elegan, taktis dan tidak emosional. Jangan lantas sudah menjadi kumpulan politisi senior, tim ini tidak mau terbuka terhadap segala kritik yang datang dan merendahkan tim-tim lawannya. Gerbong ini sejatinya punya peluang besar untuk memberikan pendidikan politik yang sehat kepada segenap masyarakat Buton Utara tentang bagaimana cara berdemokrasi dengan baik sehingga tercipta wawasan kemajemukan yang inklusif dan mendorong dinamika persaingan yang sehat serta terbuka.

Kehadiran kembali Ridwan Zakaria juga bukan berarti tanpa celah. Isu tentang trah kekuasaan yang hanya berputar-putar dilingkungan keluarga yang sudah menggaung sejak dulu, bisa jadi kembali menjadi senjata ampuh dari kubu lain untuk menyerang gerbong ini. Isu-isu ini harus segera dipadamkan agar tidak menjadi sumber penyakit. 

ASWADI ADAM

Sosok calon bupati ini adalah penantang baru yang fenomenal berkat usahanya menghadirkan Fildan. Di awal kehadirannya, Aswadi sudah menjadi primadona dan diagung-agungkan dihampir setiap sudut perkampungan. Ia adalah harapan bagi banyak masyarakat yang jenuh terhadap pola politik di Butur yang hanya bisa saling menjatuhkan satu sama lain. Aswadi juga hadir dengan berbagai gebrakannya di bidang sosial yang patut diapresiasi, seperti membangun gedung sekolah, bantuan padi Impari secara gratis, perbaikan jalan, dll. Sayang beribu sayang, pergerakan politik Aswadi Adam belum berbanding lurus dengan kerja-kerja sosialnya tersebut. Pergerakan politiknya makin hari justru terlihat makin melemah. Hal ini salah satunya dibuktikan dengan simpang siurnya keabsahan rekomendasi partai (Golkar, PKB dan PKS) yang akan digunakan Aswadi Adam di Pilkada tahun 2020 ini. Konon ketiga partai ini masih ragu dan menunggu survei terakhir di lapangan.

Bagi penulis, Aswadi adam belum mempunyai tokoh sentral yang bisa menjadi simbol kemenangan dan menambah nilai semangat perjuangan para pendukungnya. Tak seperti di gerbong Abu Hasan dengan jejeran kadis-kadis ternama di belakangnya, serta Ridwan Zakaria dengan belasan legislator sebagai ujung tombak perjuangannya. Sebagian besar tokoh yang selalu mendampingi Aswadi berkeliling dari kampung ke kampung, justru merupakan caleg yang gagal di perhelatan pilcaleg musim lalu. Sementara legislator yang lolos seperti Sujono (Golkar), Rustamin (PKB) dan Musafiun (PKPI), terlihat belum menunjukkan pergerakan-pergerakan yang berarti di dapilnya masing-masing. Penulis memprediksi elektabilitas Aswadi Adam akan meningkat tajam jika Ramadio sebagai pentolan di partai Golkar sekaligus wakil bupati Buton Utara saat ini, bersedia pasang badan dan berjuang maksimal untuk gerbong yang memakai jargon Gasfull ini. Sejak tersandung kasus beberapa waktu lalu, Ramadio memang sudah jarang tampil ke muka publik. Tapi pergerakannya yang sepi ini perlu diwaspadai. Boleh jadi diam-diam Ramadio tengah menghimpun kekuatan di belakang layar. Bagaimanapun, Ramadio masih dihormati keberadaannya dan basis massanya di tanah seberang masih solid dan susah untuk direbut gerbong lain. Harapan kemenangan Aswadi juga bisa dijatuhkan pada dua sosok muda energik yang dimiliki Buton Utara yaitu Rahman (Legislator PKB) dan Abdul Mustarif (Legislator Golkar). Dua tokoh pemuda ini di perhelatan pilcaleg kemarin terbukti bisa menjaga massa pendukungnya dengan baik. Penampilan kalem dan tidak grasak grusuk inilah yang bisa jadi daya kejut mereka dalam merebut simpati masyarakat.

Gerbong Aswadi yang mengusung tema anak muda sebenarnya punya nilai plus dibanding gerbong-gerbong lainnya. Ibarat sebuah mesin, ia masih kuat dan kokoh. Belum punya karat dimana-mana yang bisa membuat mesin cepat mogok. Harusnya mesin ini bisa melaju lebih kencang dibanding mesin-mesin tua lainnya. Selain itu, pergerakan politik di Buton Utara juga banyak di ambil alih kaum muda. Dengan modal ini, gerbong Aswadi harusnya bisa survive, tidak berhenti dan menyerah sehingga bisa merebut kemenangan di Pilkada Buton Utara tahun 2020.

Pada Pilkada tahun 2020 ini, dalam hal pembaharuan demokrasi, kita berhak optimis akan adanya reformasi yang baik. Namun dalam perspektif pembaruan kultur politik, optimisme kita belum sedemikian menggembirakan. Kebebasan politik memang tumbuh dengan subur. Namun belum dibarengi kesiapan menghargai perbedaan pendapat. Semangat berkompetisi secara terbuka berkembang pesat, tetapi kompetisi secara sehat dan sportif masih relatif rendah. Sebagian kita hanya siap menang. Tapi tidak siap untuk kalah. Padahal etika politik sportif merupakan salah satu etika berdemokrasi. Demokrasi mengajarkan kita bahwa suatu kemenangan tidak cukup diraih hanya dengan memenangkan kompetisi. Tapi juga mensyaratkan adanya pengakuan dari pihak yang kalah. Singkatnya, Kalau belum ada pihak yang mengaku kalah. Berarti belum ada pihak yang menang. Itulah arti sebenarnya dari demokrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *