Pilkada 2020, Pertarungan di Dunia Maya

Oleh: Dr. M. Najib Husain

Dosen FISIP UHO  

Kampanye digital bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Dia hanya bisa tegak dan bertenaga jika ditopang strategi kampanye darat yang efektif. (Cangara,2009)

Di era saat ini, online dan offline harus saling menopang, sehingga seorang kandidat mesti mempertimbangkan pentingnya membangun kekuatan brand, serta menurunkannya dalam banyak produk kampanye dengan  penggunaan berbagai perangkat teknologi media untuk menyebar pesan dengan teknik bercerita (storytelling) yang terkenal dalam dunia perpustakaan hal ini  akan menyentuh rasa empati pemilih yang tidak mudah goyang oleh money politik.

Persoalannya hari ini Pilkada 2020 diharuskan hadir saat adanya COVID-19 yang menyebabkan sosialisasi di darat yang dilakukan kandidat selama ini tidak bisa dilakukan secara massif, sehingga strategi peperangan para kandidat tidak bisa berjalan berbarengan, tapi tidak berarti mesin politik harus didiamkan dan hanya menunggu hari H atau berharap dari hasil terawang oleh dukun politik yang akan mengatakan anda akan menang.  

Dengan kondisi saat ini seharusnya para pendukung bakal calon bupati dan wakil bupati tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk membuat posko pemenangan di mana-mana, merebut elit partai sebanyak-banyaknya, dan gencar melakukan pertemuan dengan masyarakat yang kadang tidak memperhatikan lagi protokol kesehatan dengan menjaga jarak dan memakai masker.

Saat ini sudah seharusnya para tim pemenangan dapat memanfaatkan ruang publik di dunia maya. Saat ini dan kedepan, dominasi ICT (informasi communication teknologi) yang semakin kuat tentu menjadi tantangan sendiri bagi para politisi dalam mengembangkan ruang publik di dunia maya.

Kemampuan setiap orang untuk membuat blog, grup percakapan (FB, WA, IG dan sebagainya) dan berbagai website yang interaktif adalah peluang besar. Dengan adanya ruang yang begitu terbuka dalam menyampaikan pesan-pesan politik oleh para kandidat harus dimanfaatkan dengan baik, dengan jalan membuat pesan yang mudah dipahami oleh para pemilih yang sudah diketahui bagaimana karakteristiknya oleh tim media para kandidat.

Sebab dalam pemilu, suara setiap pemilih mempunyai nilai yang sama. Membujuk seorang profesor sama nilainya dengan membujuk seorang nelayan atau petani. Kuantitas pemilih lebih menentukan dibandingkan dengan kualitas pemilih. Karena itu agar kandidat mendapat suara yang besar, strategi harus diarahkan untuk membidik pemilih dengan lapisan terbesar.

Pengenalan terhadap lapisan pemilih, karakteristik dan profil pemilih menjadi penting agar kandidat bisa menjangkau sebanyak mungkin orang. Karakteristik demografis, karakteristik psikologis dan kecenderungan perilaku pemilih penting diketahui oleh kandidat (pemilih rasional, pemilih sosiologis, pemilih kultural, atau pemilih tradisional).

Hal itulah yang dilakukan oleh tim pemenangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang punya data lengkap tentang pengguna media sosial yang tidak dianggap penting oleh Hillary Clinton.

Jadi tidak ada lagi keraguan untuk menomorduakan pertarungan di dunia maya, jangan katakan lagi  kabupaten Anda masih terbelakang dan pemilihnya belum diterpa oleh media (alasan klasik dan basi).

Karena Kampanye digital bisa menjadi mata rantai penting untuk menyebarkan keunggulan, memetakan kekuatan, melihat kelemahan lawan, serta menyebar pesan di setiap pintu-pintu hati pemilih yang setiap saat terbuka.

Kampanye digital bisa sedemikian bertenaga ketika dikelola dengan baik, diposisikan sama penting dengan kampanye darat. Dengan catatan punya strategi mengolah pesan yang baik, Karena biarpun Anda sering kampanye di media sosial dan media online, namun ketika pesan Anda sulit dipahami, maka pasti akan gagal.

Biarpun tim Anda paling sering buat postingan, menyebar video dengan  gambar kandidat mendominasi pesan, yakinlah orang-orang akan tidak peduli karena bosan dan jenuh melihat wajah tanpa narasi edukatif. Jadi bagaimana mengolah pesan dengan sederhana dan langsung mengenai sasaran. Karena secanggih apapun tools yang dipakai, pasti tidak akan efektif jika tidak ditopang oleh strategi mengemas konten dan menyebarkan narasi dengan tepat.

Oleh sebab itu, bagi kandidat di 7 kabupaten yang sudah memainkan pertarungan di dunia maya, mesti rajin-rajin melakukan audit komunikasi setiap bulan untuk mengetahui titik lemah kerja tim. Mengaudit apakah pemilihan pesan yang tidak konsisten sehingga membingungkan khalayak, apakah kampanye itu ditopang isu-isu yang diserap kampanye darat, atau jangan-jangan dianggap hanya sebagai pelengkap dari strategi kampanye darat.

Namun, ruang publik di dunia maya juga punya sisi gelap, dan  mengkhawatirkan buat Barlow (2008: 36), sebagai contoh, membuat blog teramat mudah. Setiap orang dapat membuatnya dalam hitungan menit dan segera online, bahkan bagi seseorang dengan pengalaman yang minimum.

Padahal komunikasi seharusnya menjadi sarana untuk mengeliminir permasalahan, yang dalam pandangan Lasswell memiliki tiga fungsi sebagai instrumen untuk mengontrol lingkungan, beradaptasi dengan lingkungan dan melakukan transformasi warisan sosial. Aspek ini menunjukkan sebuah fakta sederhana, bahwa komunikasi baik secara teoretik dan aplikatif tidak bisa dipandang secara sederhana agar tidak besar dalam tempurung keilmuan.

Menurut Barlow, sisi gelap terjadi karena hal tersebut berlangsung tanpa filter dan pengawasan, termasuk mengatakan (menulis) apa saja yang diinginkan seseorang.

Tentu ini berkaitan dengan kemampuan melakukan editing, terutama jika pesan komunikasi yang dilakukan sudah sampai ke jaringan yang lebih luas. Dalam konteks ruang publik, ini tentu berbahaya karena, ketiadaan aspek “intelektualitas” atau “asal bunyi” akan menurunkan dan merusak diskusi dalam ruang publik itu sendiri.

Karena teknologi tidak hanya berupa memberikan dampak positif saja,  namun juga memberikan dampak negatif yaitu munculnya berbagai jenis pelanggaran dan bahkan suatu kejahatan salah satunya  penyebaran info hoax antara satu kandidat dengan kandidat lainnya.

Jumlah pengguna internet dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, hal tersebut juga meningkatkan peningkatan penyebaran hoax. Tujuan dari pembuat dan penyebar hoax adalah menggiring opini masyarakat dan kemudian membentuk persepsi yang salah terhadap suatu informasi yang sebenarnya.

Hoax merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya, dengan kata lain hoax diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya,  dapat pula diartikan sebagai tindakan mengaburkan informasi yang sebenarnya, dengan cara membanjiri suatu media dengan pesan yang salah agar bisa menutupi informasi yang benar. (Mansyah, 2017:2 dalam Septanto, 2018).

Hoax atau berita bohong adalah salah satu bentuk cyber crime yang kelihatannya sederhana, mudah dilakukan namun berdampak sangat besar bagi kehidupan sosial masyarakat. Pilkada DKI Jakarta adalah salah satu peristiwa skala nasional yang terpengaruh oleh hoax.

Berita bohong atau hoax berbau SARA sangat banyak tersebar atau disebarkan ke media sosial online pada masa pilkada di tahun 2017. Banyak orang terpengaruh oleh berita hoax tersebut, sehingga muncul rasa curiga, benci, sentimen terhadap orang yang berbeda agama akibat hoax berbau SARA tersebut, bahkan pengaruhnya terus terbawa walaupun Pilkada DKI Jakarta sudah selesai.

Berbagai media sosial online merupakan sarana atau media bagi seseorang ataupun berbagai pihak dalam menyampaikan aspirasi pikirannya, pendapatnya ataupun sebagai tempat untuk menyampaikan   berbagai informasi. Sebenarnya jika  media online tersebut digunakan  untuk hal-hal yang positif maka tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan.

Sayangnya media sosial online sering kali digunakan untuk menyampaikan berbagai hal negatif oleh satu kandidat ke kandidat yang lain untuk kepentingan meraih kemenangan dan merubah opini pemilih.

Harus diakui bahwa media sosial merupakan tempat yang subur bagi munculnya informasi yang bersifat fitnah, hasutan, hoax, dan sebagainya. Hal ini dapat terlihat  jelas sejak Pilgub 2012, Pilpres 2014,  Pilgub 2017, dan Pilpres 2019.

Menurut hasil survey Mastel dalam Marwan (2017) dalam bahwa penyebaran berita atau informasi yang berisi konten hoax tertinggi berasal dari media sosial berupa: Facebook 92, 40%; aplikasi chatting 62, 62%; dan situs web 34,40%. (Marwan & Ahyad, 2017:2).

Jadi media sosial yang paling banyak digunakan untuk penyebaran hoax adalah Facebook, berdasarkan penelusuran yang dilakukan Tempo. Kabar Ratna Sarumpaet dianiaya pertama kali beredar melalui Facebook. Akun yang mengunggah informasi tersebut adalah Swary Utami Dewi. Unggahan ini disertai sebuah tangkapan layar yang berisi dari aplikasi pesan WhatsApp pada 2 Oktober 2018 serta foto Ratna.

Hoax Ratna Sarumpaet berkekuatan mempengaruhi pilihan politik para pemilih untuk lebih mendukung Jokowi.

Kurangnya penyaringan informasi berita di media sosial online dari pihak yang berwenang semakin memudahkan para pembuat dan penyebar hoax dalam melakukan pekerjaannya. Pemilih pemula, adalah lapisan masyarakat yang paling rentang, Pemilih pemula bagian dari generasi milenial pada generasi ini, yang paling populer dalam kesehariannya adanya smartphone dan media sosial.

Generasi milenial menggunakan media untuk mengakses berita  tanpa mengenal batas, ruang, dan waktu. Dengan banyaknya informasi sehingga sangat sulit untuk mengidentifikasi fakta dan hoax.  hoax, fitnah, ujaran kebencian, hujatan bermunculan tanpa henti di media sosial.

Dalam tataran praktis, politik hoax adalah sejenis propaganda dan berita bohong yang terus menerus memenuhi kepala seseorang sehingga dapat menghilangkan sikap kritis. Jozef Gobbels mengatakan bahwa ‘kebohongan yang di ulang berkali-kali akan menjadi kebenaran dan dipercaya masyarakat.

Sehingga hoax yang diproduksi terus menerus akan menjadi kebenaran, dan apabila kebenaran dari hoax dan dari berita sungguhan tidak bias dibedakan tentunya menjadi masalah besar.

Untuk itu, ada dua kata kemenangan bagi para kandidat di 7 kabupaten se-Sulawesi Tenggara yang yakin dan mau memaksimalkan pertarungan di dunia maya adalah “mengenal dan membidik.” Itulah kata kunci kemenangan Trump Atas Hillary Clinton yang menggagalkan semua hasil survey. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *